• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

Grafis Murah AMD

Jakarta - Penggemar kartu grafis 'murah meriah' dari AMD harap bersabar. Rival Nvidia tersebut tengah memproduksi tiga grafis di kelas low-end dengan harga di bawah Rp 1 Jutaan.

Seperti dikutip detikINET dari pcmag, Rabu (20/4/2011), trio grafis murah meriah itu adalah  Radeon HD 6670, 6570, dan 6450. Namun sayangnya produk ini langsung dikritisi para analis lantaran kipas pendingin yang berisik.

AMD Radeon HD 6570 (512 MB VRAM) dan Radeon HD 6670 (1 GB VRAM) dibanderol seharga USD 79 dan USD 99. Kedua kartu grafis ini telah mendukung DirectX 11 (DX11) dengan kualitas video 3D, serta teknologi multi-display Eyefinity.

Bayangkan dengan harga di bawah Rp 1 Juta, HD 6570 sudah mendukung tiga monitor, dan HD 6670 mendukung empat monitor sekaligus. Selain itu mereka juga telah dibekali GDDR5.

Dari ketiga trio ini, AMD Radeon HD 6450 adalah yang paling murah. Dengan harga USD 59, grafis saingan GeForce GT 520 ini sangat cocok dimiliki pencari grafis murah meriah.

sumber:detikinet.com
Share:

Asus Ee Pad Transformer, Honeycomb Canggih



Jakarta - Makin dominannya tablet sebagai sebuah kategori baru perangkat komputer tak bisa diabaikan. Hampir semua produsen komputer utama telah menawarkan, atau sudah merencanakan, produk tablet masing-masing.

Setiap vendor punya cukup banyak pilihan dalam mendekati pasar tablet yang sedang tumbuh ini. Tapi jalur yang paling 'mainstream' adalah menggunakan sistem dengan arsitektur ARM dan sistem operasi (OS) Android.

ARM jadi pilihan banyak pihak karena dianggap sudah terbukti. Apple melakukannya untuk iPad, demikian juga Samsung pada Galaxy Tab-nya.

Sedangkan Android jadi pilihan menarik karena tersedia dari Google dengan lisensi Apache yang bersifat Open Source.

Asus Eee Pad Transformer

Asus pun dengan bijak memilih kombinasi tersebut untuk Eee Pad Transformer. Hal yang lebih menyenangkan adalah, Android yang digunakan sudah versi 3.0 atau yang lebih dikenal sebagai Honeycomb.

Pilihan memakai Honeycomb ini tepat karena OS yang satu ini memang dirancang untuk perangkat tablet. Tidak seperti versi Froyo dan sebelumnya yang dirancang untuk smartphone.

Hal pertama yang detikINET lakukan adalah menjajal keunikan Honeycomb. Kesimpulannya, semua tablet yang mau menggunakan Android seharusnya 'wajib' memakai Honeycomb.

Punggung Asus Eee Pad Transformer



Desain

Sesuai namanya, Transformer memiliki kemampuan khusus bisa berubah bentuk. Perubahannya adalah dari sebuah tablet menjadi sebuah notebook.

Hal itu bisa dilakukan melalui dock yang tersedia secara terpisah. Meski dijual terpisah, dock tersebut memiliki desain yang senada dengan tabletnya, sehingga saat digabungkan akan nampak seperti satu produk utuh.

Punggung tablet Eee Pad memiliki tekstur dengan pola geometris yang cukup halus dan bisa membantu pegangan tangan. Selain tekstur itu, hanya terdapat logo Asus dari bahan metalik dan lingkaran tempat kamera.

Bagian muka dari Eee Pad memiliki bidang plastik dengan frame hitam lebar seperti umumnya tablet. Bedanya, bidang itu masih dibingkai lagi oleh bahan metalik dengan perforasi yang agaknya berfungsi sebagai lubang speaker.

Asus Eee Pad Transformer

Bagian muka dock Eee Pad menggunakan bahan metalik yang sama dengan di tabletnya. Konsistensi bahan ini yang membuat Transformer nampak seperti notebook utuh saat digabungkan.

Layar yang digunakan berukuran 10.1 inchi. Layar ini memanfaatkan teknologi In-Plane-Switching sehingga sudut pandangnya mencapai 178 derajat.

Asus Eee Pad Transformer

Tablet ke Notebook ke Tablet 

Saat digunakan sebagai tablet saja, Eee Pad Transformer memberikan pengalaman yang cukup memuaskan. Respons layar sentuhnya terasa gesit.

Saat diubah menjadi notebook alias dipasangkan ke dock-nya, perangkat ini pun bisa dipakai dengan normal. Begitu tersambung ke dock, akan muncul icon pemberitahuan di System Bar Honeycomb.

Sebuah pointer pun akan muncul di layar yang bisa dikendalikan dengan touchpad pada dock atau melalui mouse yang terhubung ke port USB. Port USB itu juga bisa dihubungkan ke penyimpanan eksternal seperti USB flashdisk.

USB Port pada Dock Asus Eee Pad Transformer

Saat dihubungkan ke dock, tablet harus diselipkan pada area sudah tersedia. Konektor 40-pin dan kedua penguncinya harus tersambung hingga pas -- terdengar bunyi klik dan tuas kunci di dock bergeser ke tengah.

Pertama kali memasang tablet ke dock-nya, detikINET mengalami beberapa kesulitan karena celahnya cukup dalam. Rupanya hal ini semata-mata karena belum terbiasa.

Selama menjadi 'notebook' layar sentuh Eee Pad masih akan berfungsi. Beberapa hal pun terasa lebih enak diakses lewat layar sentuh, seperti scrolling atau berpindah antar layar Home Screen. 

Sedangkan di keyboard juga tersedia beberapa shortcut yang khas Android. Mulai dari untuk WiFi, mengunci/membuka layar, Back maupun untuk akses cepat ke Settings.

Perangkat ini menyediakan koneksi HDMI untuk memutar film pada televisi High Definition. Namun untuk memutar jenis file film tertentu harus dipastikan keberadaan Codec atau aplikasi yang sesuai.

Port HDMI pada Asus Eee Pad Transformer

Kesimpulan

Secara umum, Eee Pad Transformer terasa sangat menggoda. OS Honeycomb yang digunakan bisa mendukung berbagai aktivitas standar produktivitas dan hiburan.

Keberadaan dock yang membuatnya bisa digunakan sebagai notebook mungil juga menjadi daya tarik ekstra. Apalagi dock itu mencakup baterai sendiri, sehingga bisa menjadi 'penyambung nyawa' saat jauh dari sumber listrik.

Keyboard Asus Eee Pad Transformer

Kelebihan:
- Menggunakan OS Android Honeycomb
- Dock keyboard memiliki baterai
- Desain menarik

Kekurangan:
- Belum banyak tersedia aplikasi spesifik untuk Honeycomb di Android Market
- Kadang masih perlu menyentuh layar meskipun tersambung ke dock bagai notebook


Spesifikasi:
  • Layar: 10.1" LED Backlight WXGA (1280x800); multi-touch 10 titik sentuhan; anti gores
  • Prosesor: Nvidia Tegra 2
  • Memory: 1GB
  • Penyimpanan: 16GB atau 32 GB
  • Koneksi: WiFi 802.11 b/g/n, Bluetooth
  • Kamera: 5 MP (belakang) dan 1.2 MP (depan)
  • Port: 2 in 1 Audio (mic dan headphone), mini HDMI 1.3a, microSD
  • Dock: keyboard full QWERTY chichlet, touchpad single button, 2 x USB, multi memory card reader (SD Card, SDHC, MMC).
  • Berat: 680 gram
  • Dimensi: 271 x 171 x 12.98 mm (tablet saja)

sumber:detikinet.com
Share:

Advertisement

Popular Posts

Label

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.